info@fpsi.co.id 0274 513611

Kilas balik berdirinya FPSI

Federasi Perkumpulan Senifoto Indonesia

Oleh Ir. Iin Hardiono Kertadjaja, Hon.E.FPSI

Pada bulan Juni 1970, saya membaca artikel dalam majalah Fokus dari Negeri Belanda, mengenai promosi keanggotaan FIAP. Saya lalu mengirimkan surat dalam bahasa Belanda ke President FIAP, Dr. Van de Wijer, menanyakan prosedur untuk menjadi anggota FIAP.

Pada bulan Agustus 1970, Mr. Brestscher – FIAP General Secretary, mengirimkan jawaban bahwa keanggotaan adalah per negara dan didukung oleh sedikitnya 3 club. Sebulan kemudian, pada bulan September 1970 saya ke Jakarta menemui Pengurus Candra Naya dan bertemu dengan Ketuanya, Pak Rustam Wiriadi dan didampingi oleh Pak Pitoyo Kadiroen.

Pertemuan ini ditindaklanjuti dengan pertemuan puncak antara PAF dan Candra Naya di Cibodas pada bulan Oktober 1970. Disepakati gagasan untuk mengadakan salonfoto bersama dan Kongres dari Perkumpulan Fotografi di Indonesia pada tahun berikutnya, yaitu tahun 1971. Namun rencana ini akhirnya tidak terlaksana, karena memerlukan biaya yang tinggi. Menurut kalkulasi pada saat itu, dibutuhkan biaya Rp. 1.500.000,- yang tidak mungkin terlaksana tanpa bantuan sponsor yang besar.

Pada tanggal 30 November 1970 saya selaku Sekretaris PAF mengirimkan Surat Edaran kepada 16 Perkumpulan Foto yang terdaftar pada file Gaperfi, dengan usul PAF untuk membentuk sebuah Sekretariat Bersama, sebagai wadah sementara dari perkumpulan-perkumpulan foto di Indonesia, sebelum terlaksananya Kongres untuk mewujudkan sebuah Federasi secara nasional.

Yang memberikan respons dan menyetujui usul PAF ini ialah : Candra Naya, HISFA, Fadjar dan IFOSS.

PAF bekerja secara marathon, sehingga dalam Rapat Pengurus PAF di bulan Desember 1970 segera dibentuk Pengurus Sekretariat Bersama sebagai berikut:

  • Ketua : Prof. DR. R.M. Soelarko
  • Wk. Ketua : Dr. Ganda Kodyat
  • Sekretaris : Iin Hardiono Kertadjaja
  • Seksi LN : Dr. J.O. Wuisan
  • Seksi DN : Drs. B. Darmawan

Semuanya dari PAF.

Pada tanggal 12 November 1971, President & Founder FIAP, Dr. M. van de Wijer mengirimkan surat kepada Prof. DR. R.M. Soelarko menanyakan mengenai kelanjutan aplikasi Indonesia. Beliau mengatakan: “You are NOT obligated to found first a Federation before becoming member of FIAP, specially when your society is the most active of your country. Several other countries became FIRST member of FIAP, and many months later a Federation or Committee of Union was founded.

Pada tanggal 30 Januari 1972, Sekretariat Bersama mengirimkan Surat Aplikasi ke FIAP yang diajukan atas nama:

  1. Candra Naya : 1.000 anggota
  2. PAF : 600 anggota
  3. PSS : 300 anggota
  4. HISFA : 250 anggota
  5. FOCUS : 150 anggota
  6. IFOSS : 100 anggota
  7. FADJAR : 50 anggota
  8. SUFOC : 50 anggota
  9. TJENDERAWASIH : 50 anggota

Pada Kongres FIAP bulan Juni 1972 di Eindhoven (Negeri Belanda), Indonesia secara resmi diterima sebagai anggota FIAP, walaupun atas nama PAF sebagai Sekretariat Bersama, karena Federasi nasional belum terbentuk. PAF berkewajiban untuk membayar iuran keanggotaan FIAP sebesar US $ 30.

Pada medio 1972 terlaksana pertemuan formil pertama antara Pengurus PAF dan LFCN di Jakarta. Rombongan PAF terdiri dari Prof. DR. R.M. Soelarko, Hussein Tanzil, Setiady Tanzil, Gatot Sudradjat, Darmawan dan Hardiono.

Pertemuan ini lebih bersifat silaturahmi, untuk menyesuaikan persepsi masing-masing mengenai pembentukan Federasi yang akan dilakukan dalam forum Rapat Gabungan antara semua Klub Foto, yaitu semacam Musyawarah tingkat nasional. Sebagai kelanjutannya, pada Oktober 1972 LFCN mengirimkan kontribusi iuran FIAP sebesar US $ 5,- kepada Sekretariat Bersama.

Dalam Buletin PAF Mei 1973, PAF berusaha untuk memotivasi Klub2 Foto lainnya. Dengan diterimanya Indonesia menjadi anggota FIAP, maka kita telah menjadi keluarga Fotografi Internasional. Konsekwensinya adalah bahwa kita harus lebih memperlihatkan kekompakan nasional dalam bidang fotografi.

Dalam Editorial Buletin PAF September 1973, diumumkan bahwa suatu peristiwa penting dalam sejarah fotografi Indonesia akan mencapai klimaksnya pada akhir tahun ini, yaitu dengan diadakannya Salonfoto Indonesia 1973 di Jakarta dan akan dibarengi dengan peristiwa penting lainnya, yaitu Kongres Nasional Pertama yang akan membicarakan mengenai wadah nasional Perkumpulan2 Fotografi di Indonesia.

Pada tanggal 2 Oktober 1973, Bapak A. Moehammad selaku Ketua LFCN dan tim nya datang ke Bandung dan diterima oleh Pengurus PAF di rumah Bpk. Hussein Tanzil. Pada pertemuan itu disepakati bahwa PAF dan Candra Naya adalah Koordinator dan Panitia Penyelenggara Salonfoto Indonesia 1973 dan Kongres Federasi.

Setelah dipertimbangkan dan dianalisa secara logistik dan strategis, sebaiknya Munas dan Salon diadakan di Jakarta.
Prof. DR. R.M. Soelarko dan Bpk. Moehammad merencanakan untuk mengundang dan mengajak Bpk. Adam Malik (Menteri Luar Negeri RI) untuk menjadi Pelindung dan menyumbangkan Piala Bergilir Adam Malik.

Aktivitas Sekretariat bersama menjadi bertambah berat sehingga Pengurus PAF perlu menyusun Panitia Persiapan Musyawarah Nasional (Munas) dan Salonfoto Indonesia (SFI) sebagai berikut:

  • Ketua: Prof. DR. R.M. Soelarko
  • Sekretaris: Ir. I. Hardiono Kertadjaja
  • Protokol: Leo Nardi
  • Administrasi: Arco Kasta, H.B. Jonathan
  • Humas: R.M. Hartoko
  • Anggota:
    • Gatot Sudradjat
    • Hussein Tanzil
    • Ibrahim
    • Setiady Tanzil
    • Herry Biyono
    • Iwan Sudradjat

Demi kelancaran dan kepraktisan kerja, maka semuanya berasal dari PAF Bandung.

Sebagai Sekretaris Panitia Persiapan MUNAS, Hardiono mengerjakan penyusunan AD dan ART Federasi. Pekerjaan yang tidak mudah bila dilakukan tanpa suatu acuan. Dengan dibantu oleh Sdr. Suriadi (saat itu Wakil Sekretaris PAF yang bekerja disebuah Kantor Notaris) dan ber-referensi kepada AD/ART Gaperfi, PAF dan Candra Naya, akhirnya tersusun draft AD & ART Federasi yang akan didiskusikan dan dikupas di forum MUNAS pertama tahun 1973, di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Sdr Dicky WP sebagai Sekretaris LFCN juga membantu memberikan masukan.

Setelah puluhan komunikasi antara PAF dan LFCN, diputuskan bahwa SFI dan MUNAS akan diadakan pada tanggal 27 sampai 30 Desember 1973 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Kita patut bersyukur bahwa MUNAS Pertama ini dihadiri oleh 36 Peserta yang datang dari 8 Klub Foto, yaitu:

  1. PAF Bandung (12 Panitia, 2 Delegasi, 2 Pendengar)
  2. Candra Naya Jakarta (2 Panitia, 2 Delegasi)
  3. PSS Surabaya (2 Delegasi)
  4. HISFA Yogyakarta (2 Delegasi, 1 Pendengar)
  5. CCC Pekanbaru (2 Delegasi)
  6. BFC Purworejo (2 Delegasi, 3 Pendengar)
  7. FOCUS Solo (2 Delegasi)
  8. SPF Surabaya (2 Delegasi)

Cukup banyak materi yang didiskusikan selama 3 hari pertemuan itu.
Akhirnya pada tanggal 30 Desember 1973 Musyarwarah Nasional Perkumpulan-Perkumpulan Foto se-Indonesia antara lain memutuskan:

    1. Nama resmi gabungan klub-klub foto di Indonesia adalah FEDERASI PERKUMPULAN SENIFOTO INDONESIA (FEDERATION OF PHOTOGRAPHIC SOCIETIES OF INDONESIA), disingkat FPSI.
    2. AD & ART FPSI setelah melalui pembahasan fasal demi fasal telah disepakati dan disahkan. (Walaupun masih ada beberapa klausula yang belum tuntas dan akan disempurnakan sambil FPSI berjalan).
    3. Ketua Umum dan Sekretaris Umum harus dari 2 Klub yang berbeda. Untuk Perioda Pertama, Ketua Umum adalah dari PAF dan Sekretaris Umum adalah dari LFCN. Sekretariat FPSI harus berada di tempat Klub dimana Sekretaris Umum bermukim. (Pengurus Inti FPSI sementara waktu berbagi antara 2 Klub kuat yaitu PAF dan LFCN, sampai Klub-klub lain siap).Susunan Badan Pengurus FPSI adalah sbb.:
      • Pelindung: H. Adam Malik
      • Ketua: Prof DR. RM. Soelarko
      • Wakil Ketua: A. Moehammad
      • Sekretaris: Dicky WP
      • Bendahara: Djohan Tirtadjaja
    4. Menulis Surat Permohonan Resmi kepada FIAP mengenai ganti nama keanggotaan dari PAF menjadi FPSI.
      (Hardiono masih melakukan hal ini sambil membantu Dicky WP dalam proses peralihan dari Sekretariat Bersama ke Sekretariat FPSI di LFCN).
    5. Salonfoto Indonesia disepakati sebagai acara Tahunan.
      (Tuan rumah pelaksana berpindah dari Klub satu ke Klub berikutnya, sesuai usulan dan keputusan Raker atau Munas. Detail pelaksanaan dan kategori lomba akan di-review secara berkala).

Masih banyak keputusan lainnya dalam MUNAS Pertama ini. Akan tetapi yang paling penting adalah 5 hal tersebut diatas.

Dengan berdirinya FPSI, maka Sekretariat Bersama yang telah bekerja keras selama 3 tahun untuk merintis dan melahirkan Federasi Perkumpulan Senifoto Indonesia, dibubarkan.

Sdr. Hardiono masih menyempatkan diri untuk mengalihkan berkas-berkas yang penting: korespondensi dengan FIAP dan Klub-klub foto di Indonesia kepada bapak Dicky WP di Candra Naya, Jakarta.

Demikian kisah nyata “behind the scene” mengenai Sejarah Sekretariat Bersama sampai berdirinya Federasi Fotografi di Indonesia dalam ujud FPSI.

Tidak banyak yang mengetahui secara lengkap mengenai sejarah dan proses lahirnya FPSI, selain 12 pemerhati dan penggemar fotografi saat itu, yaitu: Prof DR. RM Soelarko (alm), Dr. Ganda Kodyat (alm), Hardiono Kertadjaja, Leo Nardi (alm), Wahab Masli (alm), Hussein Tanzil, Setiady Tanzil (alm), Djohan Tirtadjaja (alm), Pitojo Kadiroen (alm), Rustam Wiriadi (alm), A. Moehammad (alm), Dicky WP (alm) dan Drs. Budi Darmawan.


Admin :Ir. Hardiono Kertadjaja, Hon.E.FPSI adalah Sekretaris PAF dan Sekretaris Sekretariat Bersama Pembentukan FPSI. Ia adalah tim penyusun AD/ART FPSI. Saat ini Ir. Hardiono Kertadjaja tinggal di Singapura. Hussein Tanzil tinggal di Bandung. Drs. Budi Darmawan tinggal di Hawaii, USA.